Hohoiii!
Banyak dari kita yang tidak tahu bahwa setiap tanggal 23 Juli diperingati sebagai hari tanpa televisi. Bahkan aku pun tidak mengetahui siapa yang menetapkan dan memperingati hari tanpa televisi. Televisi telah menjadi bagian hidup dari manusia di abad 21, dan tanpa disadari telah menjadi candu bagi masyarakat. Aku berani bertaruh bahwa di setiap rumah yang sudah dianggap layak huni pasti terdapat paling tidak satu televisi, kecuali rumah yang dijadikan kos-kosan, rumah Tuhan (tempat ibadah), dan beberapa pengecualian lainnya yang mungkin lupa aku sebutkan.
Ya, bisa dibilang televisi benar-benar telah menjadi kebutuhan yang sangat penting dan selalu ditonton setiap harinya. Karena itulah pertama kali aku mengetahui adanya hari tanpa televisi, aku langsung terkejut karena sepertinya saat ini tidaklah mungkin untuk tidak menghidupkan televisi barang sehari saja.
Aku sendiri adalah orang yang tidak begitu menyukai televisi. Dulu ketika menonton televisi, terutama dalam dosis yang besar (dalam waktu yang lama), aku merasa ada yang salah. Dari segala sesuatu yang disiarkan televisi selalu saja ada hal yang aku anggap tidak benar, bahkan acara berita sekalipun. Sejak saat itulah aku mulai mencari tau sebab musabab aku tidak menyukai televisi. Ketika mengetahui alasannya, bisa dimaklumi lah kalau aku tidak suka. Oke, akan aku uraikan poin-poin negatif menyangkut televisi yang membuatku tidak suka menonton televisi, baik itu yang bersifat objektif maupun subjektif.
Pertama, acara televisi selalu mengejar rating, memberikan kepuasan yang seperti candu kepada masyarakat tanpa mempedulikan akibat yang ditimbulkannya. Kepuasan disini diartikan dengan terpenuhinya keinginan pemirsa terhadap apa yang ingin dilihatnya. Kenapa banyak acara yang settingnya glamor? Karena orang cenderung lebih suka melihat yang seperti itu dibandingkan dengan yang sederhana atau bahkan miskin. Padahal acara yang ditayangkan dengan setting glamour sering kali menciptakan standar pada masyarakat terhadap apa yang disebut sebagai sukses, sehingga orang yang mempunyai uang banyak dan/atau berhasil dalam kehidupannya berusaha untuk mengejar kemewahan.
Dalam film atau sinetron sering kita lihat tokohnya mempunyai rumah mewah megah dengan pagar tinggi menjulang mengalahkan tinggi tiang bendera, mempunyai lebih dari satu mobil, dan mereka berpenampilan sangat “istimewa” dengan pakaian dan paras yang diatas rata-rata. Baik secara langsung maupun tidak langsung seakan-akan tayangan tersebut menanamkan kalimat ”para pemirsa pasti ingin sekali jadi seperti ini kan? Jadilah seperti ini!” kedalam benak penonton. Padahal kemewahan bukanlah segalanya dan hidup sederhana adalah lebih mulia.
Kedua, siaran televisi relatif membuat para penonton menjadi pemalas. Hal ini terjadi karena apa yang disuguhkan melalui televisi seolah-olah terjadi secara instan. Sebagai contohnya adalah cerita tentang kesuksesan seseorang hanya akan ditekankan kepada betapa suksesnya orang tersebut dan kurang menonjolkan bagaimana kerasnya usaha yang telah dilakukan. Orang yang terkena dampak negatif poin kedua ini akan mudah menyerah apabila mengalami syndrome “menghadapi dunia nyata”. Mereka akan mudah menyerah dan kadang kecewa karena merasa ditipu oleh apa yang mereka ketahui dari televisi.
Ketiga, penonton selalu diposisikan sebagai konsumen dan bersifat pasif. Dalam berbagai acara, penonton akan dituntun untuk mengikuti alur yang monoton dan menghanyutkan sehingga mengikis sifat kritis yang seharusnya penting untuk dimiliki setiap orang. Bahkan televisi dapat dengan mudahnya membuat dan membangun pola pikir para pemirsa sekalian, seperti cuci otak lah kasarannya. Hal ini juga diperparah dengan adanya iklan yang menurutku sebagian merendahkan para pemirsa selaku calon konsumen. Televisilah yang berpean besar dalam menentukan trend, apa yang sedang “in”, apa yang dianggap gaul, yang ini, dan yang itu. Dan masyarakat pun mematuhinya.
Keempat, siaran televisi banyak yang menyerang kehidupan pribadi dan eksploitasi manusia. Semenjak acara yang disebut sebagai “reality show” masuk ke Indonesia, hal ini sangat terasa sekali. Mungkin dulu sebelum ada acara semacam “drama reality show religi apa lah itu namanya”, hanya acara semacam gossip dan berita yang menyerang kehidupan pribadi. Tetapi sekarang acara reality show menjamur dan semakin menggila dalam mengeksploitasi, menyerang, dan mendramatisir kehidupan. Bahkan acara beritapun sekarang menjadi lebih brutal dalam mengekspose hal-hal yang seharusnya rahasia dan tabu untuk diungkapkan. Tujuannya adalah tidak lain adalah meningkatkan rating dan profit dari stasiun televisi dan pembuat acara yang bersangkutan. Jadi poin keempat ini masih berkaitan dengan poin pertama.
Kelima, berita yang ditayangkan terlalu mengumbar sensasi dan kehilangan esensi dari berita. Bahkan sering kali berita yang disiarkan telah dimanipulasi. Seperti kata pepatah bahwa cerita sejarah ditentukan oleh pemenang. Seringkali televisi dijadikan sebagai media untuk membentuk pola pikir dan asumsi masyarakat sesuai dengan keinginan “penguasa”, menutupi fakta, atau bahkan menipu masyarakat. Coba kalian baca buku atau mencari informasi lainnya tentang bagaimana dahsyatnya kemampuan media, terutama televisi, dalam perannya mempengaruhi perilaku masyarakat dan melakukan kontrol terhadap sejarah. Kalian pasti akan terkejut dan tidak percaya akan banyaknya sejarah dan kejadian besar yang tidak sesuai dengan fakta.
Keenam, listrik yang dikeluarkan relatif mahal dan sering kali berupa pemborosan. Poin yang saya buat sebagai poin terakhir ini terkesan agak mengada-ada memang, tapi menurut pengamatanku sebagian pemilik televisi menyalakan televisi dan mengubah-ubah chanel tanpa mengetahui apa yang ingin dilihatnya. Kadang mereka melihat acara televisi yang menurutku sama sekali tidak penting. Sunguh SAMPAH! Kalau memang tidak penting, kenapa harus ditonton?
Sebenarnya masih banyak lagi hal-hal negatif dari televisi dan gaya hidup bertelevisi, tetapi perlu diingat bahwa banyak juga hal positif yang bisa kita dapatkan dari televisi. Hal-hal positif tersebut tidak akan aku tuangkan kedalam artikel ini ataupun artikel berikutnya. Kenapa? Karena kalau cuma keuntungan adanya televisi, anak kecil juga tau!
Aku tidak menyuruh orang yang kebetulan membaca tulisan ini untuk membenci, meninggalkan, atau anti terhadap televisi. Karena itu akan membuat produsen televisi dan stasiun televisi bangkrut.
Dari tulisan ini aku hanya berharap agar masyarakat dapat lebih bijak dalam memilih dan menyaring informasi yang didapatkan dari televisi. Semoga saja poin-poin yang telah aku ungkap diatas dapat dihindari. Amin!
Stay aware!